Resusitasi Bayi

November 8, 2018 | Author: Farisah Izzati | Category: N/A
Share Embed Donate


Short Description

Punya orang...

Description

C ase R epor t Session

RESUSITASI BAYI BARU LAHIR

Oleh : Magfira Finalia 1110311015

Pembimbing : dr. Hj. Desmiwarti, Sp.OG ( K )

BAGIAN OBSTETRI DAN GINEKOLOGI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS RSUP. DR. M. DJAMIL PADANG 2016

1

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kegawatdaruratan neonatal adalah situasi yang membutuhkan evaluasi dan manajemen yang tepat pada bayi baru lahir yang sakit kritis (≤ usia 28 hari), hari), membutuhkan pengetahuan yang dalam mengenali perubahan psikologis dan kondisi  patologis yang mengancam jiwa yang bias saja timbul sewaktu-waktu. Sangat penting untuk mengetahui neonatus yang berisiko sebagai deteksi dini kegawatan sehingga dapat dilakukan pertolongan lebih cepat, tidak menyebabkan kerusakan organ lebih lanjut dan mencegah gangguan tumbuh kembang. 1,2 Resusitasi bayi merupakan suatu prosedur atau tindakan yang dilakukan dalam upaya membantu dan memperbaiki fungsi pernafasan dan jantung bayi. Diperkirakan 10% bayi baru lahir membutuhkan bantuan untuk bernapas pada saat lahir dan 1% saja yang membutuhkan resusitasi yang ekstensif. Penilaian awal saat lahir harus dilakukan  pada semua bayi. Penilaian awal itu ialah: apakah bayi cukup bulan, apakah bayi menangis atau bernapas, dan apakah tonus otot bayi baik. Jika ketiga indikator tersebut terpenuhi, bayi dikeringkan dan dipertahankan tetap hangat.1,2 Untuk beberapa bayi kebutuhan akan resusitasi dapat diantisipasi diantisipasi dengan melihat faktor risiko yaitu bayi yang dilahirkan dari ibu yang pernah mengalami kematian janin atau neonatal, ibu dengan penyakit kronik, kehamilan multi- para, kelainan letak, preeklampsia, persalinan lama, prolaps prolaps tali pusat, kelahiran kelahiran prematur, ketuban pecah dini, cairan amnion tidak bening. Walaupun demikian, pada sebagian bayi baru lahir kebutuhan akan resusitasi neonatal tidak dapat diantisipasi sebelum dilahirkan, oleh karena itu penolong harus selalu siap untuk melakukan resusitasi pada setiap kelahiran.1,3 Diperkirakan 136 milyar bayi lahir di seluruh dunia setiap tahunnya. Kurang lebih 5-10% dari bayi yang yang lahir tersebut memerlukan rangsangan sederhana untuk membantu mereka bernafas, 3-5% membutuhkan resusitasi dasar, dan 60 kali/menit) terjadi pada hipoksemia, hipovolemia, asidosis (metabolik dan respiratorik), perdarahan CNS, kebocoran gas paru, kelainan paru (hyalin membrane disease, sindrom aspirasi, infeksi), udem paru, dan penggunaan obat-obatan oleh ibu (narkotik, alkohol, magnesium, barbiturat). c. Tonus Otot Sebagian besar neonatus, termasuk yang preterm akan aktif saat lahir dan menggerakan semua ekstremitas sebagai respon terhadap rangsangan. Asfiksia,  penggunaan obat pada ibu, kerusakan CNS, amiotonia kongenital, dan miastenia grafis akan menurunkan tonus otot. Fleksi kontraktur serta tidak adanya lipatan sendi merupakan tanda kerusakan CNS yang terjadi di dalam rahim. d. Reflek  Neonatus normal bergerak ketika salah satu ekstremitas digerakkan dan meringis atau menangis ketika selang dimasukkan ke dalam hidungnya. Tidak adanya respon terjadi pada bayi hipoksia, asidosis, penggunaan obat sedatif pada ibu, trauma CNS dan  penyakit otot kongenital. e. Warna Kulit Pada umumnya semua kulit neonatus berwarna biru keunguan sesaat setelah lahir. Sekitar 60 detik, seluruh tubuhnya menjadi merah muda kecuali tangan dan kaki yang tetap biru (sianosis sentral). Sianosis sentral diketahui dengan memeriksa wajah,  punggung dan membran mukosa. Jika sianosis sentral menetap sampai lebih dari 90 detik perlu dipikirkan asfiksia, cardiac output  rendah, udem paru, methemoglobinemia,  polisitemia, penyakit jantung kongenital, aritmia dan kelainan paru (distres pernapasan, obstruksi jalan napas, hipoplastik paru, hernia diafragmatika), terutama bila bayi tetap sianosis dibawah respirasi kendali dan oksigen ysng mencukupi. Pucat menandakan  penurunan cardiac output , anemia berat, hipovolemia, hipotermia atau asidosis.

5

2.4 Penilaian APGAR 3,5

Apgar skor adalah ekspresi dari kondisi physiologis bayi baru lahir. Dengan apgar skor (tabel 2.1) memungkinkan dilakukan evaluasi kondisi bayi yang barulahir pada menit pertama dan kelima kehidupannya.Apgar skor pada menit pertama merefleksikan kondisi bayi pada saat lahir dan berhubungan dengan kemampuannya untuk bertahan hidup, apgar skor yang tidak banyak meningkat dari menit pertama hingga menit ke 5 dikatakan meningkatkan resiko kematian pada bayi. Sedangkan apgar skor pada menit ke-5 merefleksikan usaha resusitasi dan mungkin berhubungan dengan neurological outcome, apgar score yang rendah pada menit ke 5 (0-3) dikatakan meningkatkan resiko terjadinya serebral palsy. Tabel 2.1 APGAR SKOR  TANDA

0

1

2

 Appearance

Biru, pucat

Tubuh merah,

Merah seluruh

(warna kulit)

Ekstremitas biru

ektremitas biru

tubuh

 Pulse/hearth rate

Tidak ada

100 kali/menit

Tidak ada

Menyeringai

Batuk, bersin,

(denyutjantung) Grimace (reflek)  Activity

menangis Lemas

(tonus otot)  Respiration

Tidak ada

(pernafasan)

Fleksi ekstremitas

Gerakan aktif,

lemah

fleksi ekstremitas

Tidak teratur,

Tangis kuat,

dangkal

Teratur

Apgar skor 8-10 umumnya dapat dicapai pada 90% neonatus. Dalam hal ini, diperlukan  suction  oral dan nasal, mengeringkan kulit, dan menjaga temperatur tubuh tetap normal. Reevaluasi kondisi neonatus dilakukan pada menit ke-5 pertama kehidupan. Pada skor Apgar 5-7 (asfiksia ringan) neonatus akan merespon terhadap rangsangan dan pemberian oksigen. Jika responnya lambat, maka dapat diberikan ventilasi dengan  pemberian oksigen 80-100% melalui bag and mask . Pada menit ke-5 biasanya keadaannya akan membaik.

6

Sedangkan skor 3-4 (asfiksia sedang) neonatus biasanya sianotik dan usaha  pernafasannya berat, tetapi biasanya berespon terhadap bag and mask ventilation  dan kulitnya menjadi merah muda. Apabila neonatus ini tidak bernafas spontan, maka ventilasi paru dengan bag and mask   akan menjadi sulit, karena terjadi resistensi jalan nafas pada saat melewati esofagus. Apabila neonatus tidak bernafas atau pernafasannya tidak efektif, pemasangan pipa endotrakea diperlukan sebelum dilakukan ventilasi paru. Hasil analisa gas darah seringkali abnormal (PaO2 < 20 mmHg, PaCO 2> 60 mmHg, pHa 7,15). Apabila pH dan defisit basa tidak berubah atau memburuk, diperlukan  pemasangan kateter arteri umbilikalis dan jika perlu dapat diberikan natrium bikarbonat. 2.5 Persiapan Resusitasi Bayi Baru Lahir 1. Persiapan Penolong Tenaga kesehatan yang bertindak sebagai penolong persalinan harus memiliki kompetensi dan siap untuk melakukan resusitasi tiap kali menolong persalinan. 2. Persiapan Keluarga Sebelum menolong persalinan, penolong harus memberitahukan kepada keluarga mengenai kemungkinan apa saja yang terjadi pada ibu dan bayi selama dan setelah  persalinan. 3. Persiapan tempat resusitasi Tempat yang perlu disiapkkan adalah ruangan bersalin dan tempat resusitasi. Ruangan harus hangat dan terang. Tempat resusitasi sebaiknya adalah tempat datar, rata, keras, bersih, kering dan hangat. 4. Persiapan alat resusitasi Alat yang diperlukan sebelum menolong persalinan adalah : a. Kain 3 helai, digunakan untuk mengeringkan bayi, menyelimuti bayi dan mengganja bahu bayi. Kain yang digunakan sebaiknya kain bersih, kering, hangat dan dapat menyerap cairan.  b. Alat penghisap lendir, seperti kateter penghisap (ukuran 5 atau 6 Fr), penghisap DeLee atau bola karet. c. Balon resusitasi yang mampu memberi O 2 90-100% d. Oksigen dengan pengukur aliran dan selang.

7

e. Sungkup dengan pinggiran bantalan ukuran bayi cukup bulan dan prematur serta kanul nasal f. Peralatan intubasi, yaitu laringoskop dengan daun lurus, ukuran 00 (sangat  prematur) 0 (prematur) dan 1 (cukup bulan) serta NGT nomor 8 g. Obat-oobatan seperti epinefrin 1:1000 (0.1 mg/ml), dextrosa 10% dalam air (250 ml), natrium bikarbonat 4.2% (5mEq/10ml), air steril, cairan seperti NaCl 0.9% dan RL. h. Lampu penghangat, infant water atau inkubator i.

Sarung tangan

 j.

Jam atau pencatat waktu

a.

 b.

c. Gambar 2.1 alat penghisap lendir a. Balon karet b. Kateter c. Penghisap deelee

\

8

Gambar 2.2 Sungkup oksigen

Gambar 2.3 balon resusitasi

Gambar 2.4Laringoskop dan ETT

9

2.5 Prosedur Resusitasi Bayi Baru Lahir

2.5.1

Sebelum persalinan dimulai a. Informasikan unit perinatologi mengenai adanya persalinan resiko tinggi yang akan atau sedang berlangsung  b. Siapkan dan cek fungsi semua alat c. Persiapan penolong, yaitu sebagai berikut : -

Memakai alat pelindung diri, yaitu celemek, masker, penutup kepala, kacamata dan sepatu penutup

2.5.2

-

Lepaskan perhiasan

-

Cuci tangan dengan air mengalir dan sabun

-

Gunakan sarung tangan

Setelah persalinan

Pada saat bayi lahir, harus dilakukan penilaian sebagai berikut : a. Apakah kehamilan cukup bulan?  b. Apakah air ketuban jernih dan tidak terkontaminasi mekonium? c. Apakah bayi bernafas adekuat atau menangis? d. Apakah tonus otot bayi baik? Jika semua pertanyaan terjawab “ya” maka lakukan asuhan persalinan normal, yaitu memberi kehangatan, membersihkan jalan nafas, mengeringkan badan bayi, sambil menilai skor APGAR. Bila salah satu jawaban adalah “tidak” maka lakukan langkah awal resusitasi.

2.5.3

Langkah Awal Resusitasi

Lakukan penilaian untuk menjawab pertanyaan pada kotak merah muda. Jika semua

pertanyaan

dijawab

YA,

cukup

dilakukan

perawatan

rutin.

 Namun, bila didapatkan satu jawaban TIDAK, maka dalam waktu ≤ 30 detik lakukan langkah awal resusitasi, yaitu:



Berikan kehangatan dengan menempatkan bayi di bawah pemancar panas.



Posisikan kepala bayi sedikit tengadah agar jalan napas terbuka (lihat gambar), kemudian jika perlu bersihkan jalan napas dengan melakukan pengisapan pada mulut hingga orofaring kemudian hidung.

10



Keringkan bayi dan rangsang taktil, kemudian reposisi kepala agar sedikit tengadah.

Jika

ketuban

Gambar 2.5 Reposisi Kepala tercampur mekonium diperlukan tindakan

tambahan

dalam

membersihkan jalan nafas. Setelah seluruh tubuh bayi lahir lakukan penilaian apakah bayi bugar atau tidak. (Tidak bugar ditandai dengan depresi pernafasan dan atau tonus otot kurang baik atau frekuensi jantung < 100 x / menit). 

Jika bayi bugar tindakan pembersihan seperti langkah di atas.Jika bayi tidak  bugar lakukan pengisapan dari mulut dan trakea terlebih dahulu,

11



Gambar 2.6. Diagram Alur Resusitasi Neonatus 7

2.5.4

Venilasi Tekanan Positif (VTP) 7

VTP dilakukan jika terjadi salah satu keadaan berikut : 1. Apneu 2. Frekuensi jantung
View more...

Comments

Copyright © 2017 KUPDF Inc.
SUPPORT KUPDF